Showing posts with label Basic Otomotif. Show all posts
Showing posts with label Basic Otomotif. Show all posts

Friday, September 9, 2011

Cara Menggunakan Engine Brake

detail berita
Dalam dunia Otomotif istilah Engine Brake sudah akrab ditelinga kita. engine break merupakan cara pengereman dengan memanfaatkan kekuatan mesin. jadi kita tidak perlu menggunakan rem kaki untuk menghentikan laju kendaraan.

Engine brake dapat dilakukan dengan cara mengurangi kecepatan dengan cara mengurangi persneling secara beruntun. Cara ini terbukti efektif jika anda terpaksa harus mengurangi kecepatan kendaraan secara spontan akibat sesuatu hal.

Jika dilakukan dengan cara-cara yang benar, cara ini termasuk salah satu perawatan kendaraan yang tidak membutuhkan biaya. Manfaat yang bisa diperolah dari penggunaan engine braking adalah bisa menghemat kanvas rem.

Cara yang benar untuk melakukan engine brake dengan menggunakan kendaraan dengan transmisi manual adalah apabila tuas transmisi sedang berada pada posisi gear lima janganlah langsung memindahkannya ke posisi gear tiga.

Sebaiknya perpindahan gear dilakukan secara teratur, misalnya dari posisi kelima lalu keempat kemudian ketiga dan seterusnya. Jika memaksakan perpindahan gear secara tidak teratur atau melompat, akibatnya akan merusak mesin dan gigi transmisi akan cepat rompal..

Mobil bertransmisi otomatis juga dapat melakukan cara ini. Terutama ketika melewati jalanan menurun. Caranya, pindahkan tuas transmisi dari posisi 'D' ke posisi '2'. Jika masih kurang terasa efek pengeremannya, pindahkan tuas transmisi ke angka '1'. Namun hati-hati, bila salah penerapannya pedal rem akan terasa bergetar. Hal ini terjadi akibat fungsi cakram pada roda depan bekerja tidak merata. 

Sistem Rem ABS (Anti-Lock Breaking System)

.detail berita

Rem adalah komponen terpenting di mobil. Bisa dibayangkan betapa fatalnya sebuah kendaraan apabila tidak memiliki rem saat berjalan. Seiring berkembangnya teknologi, fitur keamanan soal rem terus berkembang, termasuk penemuan rem dengan sistem Anti-Lock Breaking System atau di singkat ABS.

Pengertian paling sederhana tentang ABS adalah sistem rem anti terkunci. Sistem ini bekerja pada pengereman mobil untuk mencegah terjadi penguncian pada roda saat situasi terjadi pengereman mendadak.

ABS akan bekerja menggunakan sensor saat roda mengunci setelah terjadinya pengereman mendadak. Saat sensor membaca ada roda yang mengunci, sensor akan memberi perintah kepada piston rem untuk mengendur dan mengencang kembali saat roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, mampu mencapai 15 kali setiap detik. Hasilnya, mobil dapat dikendalikan dan jarak pengereman makin efektif.
 Sebelum ditemukan teknologi ABS, para pengemudi ataupun pembalap, sudah mempraktekan secara manual cara kerja dari ABS, dengan cara menekan pedal rem dan sesekali melepasnya (bahasa lainnya mengocok rem). Tapi, perlu jam terbang tinggi dari seorang pengemudi, untuk melakukan teknik ini. Sisanya, kebanyakan pengemudi menekan langsung pedal rem dengan harapan mobil akan berhenti.

Ada kesalahan persepsi pada fungsi rem menyebabkan rendahnya pemahaman soal manfaat ABS. Oleh karena itu, fungsi rem ABS sama sekali tidak bisa dianggap remeh, terlebih saat kita berkendara di kondisi jalan licin.

Perlu diingat, fungsi utama rem adalah mengurangi putaran roda, bukan sebagai alat penghenti kendaraan. Alhasil, masih banyak ditemukan mobil tanpa fitur ABS akan tetap meluncur meskipun sudah menginjak rem. Ini bukan persoalan roda yang masih berputar, tapi adanya ganya gaya sentrifugal, yang berbanding lurus dengan kecepatan mobil (semakin cepat mobil, semakin besar gaya sentrifugal).

Bahaya yang ditimbulkan dari gaya sentrifugal akan melempar mobil lurus ke depan, dengan catatan kemudi juga dalam keadaan lurus. Tapi bila kemudi sedang dalam keadaan berbelok, hasilnya mobil bisa tak terkjendali dan terbalik. Disinilah ABS diciptakan untuk mengurangi gaya sentrifugal. (dikutip dari berbagai sumber)

Sunday, August 28, 2011

Sistem Power Steering Pada Mobil




Sistem Power steering mempunyai sebuah booster hidrolis dibagian tengah mekanisme kemudi agar kemudi menjadi lebih ringan. Dalam keadaan normal beratnya putaran roda kemudi dalah 2 – 4 kg. Sistem  power steering direncanakan untuk mengurangi usaha pengemudian bila kendaraan bergerak pada putaran rendah dan menyesuaikannya pada tingkat tertentu bila kendaraan bergerak mulai kecepatan medium sampai kecepatan tinggi. Berikut ini dalah beberapa tipe power steering.
a.  Tipe integral.
Sesuai dengan namanya kontrol valve power piston terletak didalam gear box sedangkan tipe gear yang dipakai ialah recirculating ball. Bagian yang utama terdiri dari tangki reservoir, vane pump yang membangkitkan tenaga hidrolis, gear box yang berisi  kontrol valve, power piston dan steering gear, pipa – pipa yang mengalirkan fluida dan selang – selang flexibel.


 




b.  Tipe rack & pinion
Power steering tipe ini kontrol valve-nya termasuk didalam gear housing dan power piston terpisah didalam power cylinder. Tipe rack & pinion hampir sama dengan mekanisme tipe integral.


 

Bagian Utama Sistem Kemudi 3




Steering Linkage 


terdiri dari rod dan arm yang meneruskan tenaga gerak dari steering gear ke roda depan. Walaupun mobil bergerak naik turun gerakan roda kemudi harus diteruskan ke roda – roda depan dengan sangat tepat setiap saat. Ada beberapa tipe steering linkage dan konstrusi joint yang dirancang untuk tujuan tersebut. 


Steering linkage untuk suspensi rigid.








Steering Linkage untuk suspensi independen, Pada jenis ini masih dibagi lagi menjadi 2 macam jenis yaitu :
1.  Steering Linkage untuk tipe recirculating ball.










2.  Steering Linkage untuk tipe rack & pinion.






Bagian Utama Sistem Kemudi 2




Steering Gear 


berfungsi untuk mengarahkan roda depan dan dalam waktu yang bersamaan juga berfungsi sebagai gigi reduksi untuk meningkatkan momen agar kemudi menjadi ringan. Untuk itu diperlukan perbandingan reduksi yang disebut perbandingan steering gear. Biasanya perbandingan steering gear antara 20 :





Perbandingan yang semakin besar akan menyebabkan kemudi menjadi semakin ringan akan tetapi jumlah putarannya  akn bertambah banyak, untuk sudut belok yang sama. Tipe yang sering digunakan pada steering gear adalah tipe recirculating ball dan rack pinion.





Tipe recirculating ball digunakan pada  mobil penumpang ukuran sedang sampai besar dan mobil berjenis komersial.  Berikut ini adalah gambar tentang cara kerja dari kemudi  tipe recirculating ball dan pada halaman selanjutnya adalah komponen – komponen dari jenis kemudi ini.






Sedangkan untuk tipe rack & pinion digunakan pada mobil penumpang ukuran kecil sampai sedang. Untuk mekanisme kerjanya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.






Bagian Utama Sistem Kemudi 1


Steering column 


Steering column terdiri dari main shaft yang meneruskan putaran roda kemudi ke steering gear, da column tube yang mengikat main shaft ke bodi. Ujung atas dari main shaft dibuat meruncing dan bergerigi, dan roda kemudi dikaitkan ditempat tersebut dengan sebuah mur. Steering gear juga merupakan mekanisme penyerap energi yang menyerap gaya dorong dari pengemudi pada saat terjadinya tabrakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dihalaman selanjutnya 
















Disamping mekanisme penyerap energi pada steering column kendaraan tertentu terdapat sistem control kemudi. Misalnya mekanisme steering lock untuk mengunci main shaft.










Kemudian terdapat juga mekanisme tilt steering untuk memungkinkan pengemudi menyetel posisi vertical roda kemudi.



























































Sumber : E-Learning






Sistem Kemudi pada Mobil






Sistem kemudi berfungsi untuk mengatur arah kendaraan dengan cara membelokkan roda depan. Bila roda kemudi diputar steering column akan meneruskan tenaga putarnya ke steering gear. Steering gear memperbesar tenaga putar ini sehingga dihasilkan momen yang lebih besar untuk menggerakkan roda depan melalui steering linkage.


Tipe sistem kemudi yang digunakan tergantung dari model mobil ( sistem pemindah daya dan suspensinya, apakah mobil penumpang, komersial dan seterusnya ). Tipe yang paling banyak digunakan sekarang adalah

1. Recirculating Ball.

2. Rack dan Pinion.



BAGIAN – BAGIAN UTAMA SISTEM KEMUDI 

Pada umumnya sistem kemudi dibagi menjadi 3 bagian :

1. Steering Column

2. Steering Gear

3. Streering Linkage










Pengetesan Komponen Sistem Pengapian




1. Coil Pengapian

Pengecekan Lilitan Primer
Pemeriksaan resistensi harus dilakukan utnuk mengetes lilitan primeir. Untuk mengetes lilitan primeir, baca ohm meter dengan menggunakan AVO METER, hubungkan pada kedua terminal primeir, dan bacaannya secara akurat dicatat Bacaan tersebut harus cocok dengan spesifikasi pabrik.

Contoh:
Koil 12V – 2,5 sampai 3 Ohm
Koil Ballast – 1,5 sampai 2 Ohm
Koil Hei – 0,8 sampai 1 Ohm.










Bacaan yang benar akan menunjukkan bahwa baik rangkaian dan faktanya tidak ada yang korslet.



  • Coil Lilitan Sekunder



Untuk mengetes lilitan sekunder maka test resistansi harus dilakukan pada lilitan sekunder. Ohmmeter (Diatur pada salah satu rentang yang tinggi) dihubungkan diantara outlet tegangan tinggi dan salah satu dari terminal primer. Pabrik menentukan rentang resistansi dimana nilai sekundernya berada pengaturan umum dari nilai-nilai tersebut berada diantara 9.000 dan 12.000 ohm.






    Bacaan yang benar pada rentang yang telah ditetapkan akan menunjukkan baik rangkaian yang lengkap dengan hubungan yang baik pada lilitan primer, maupun lilitan-lilitan tidak korslet bersamaan.



    • Pengecekan Massa Isolasi



    Untuk mengecek kesalahan pemassaan satu seri test lamp (lampu pengetes) dihubungkan diantara satu dari terminal primer dan wadah logam coil. Lampunya tidak boleh menyala. Bila menyala, coilnya rusak dan harus diganti.


     


    • Pengujian Output




    Test out put scunder harus juga diterapkan pada coil menghubungkannya pada mesin pengetes yang dapat menghasilkan arus yang terganggu. Dengan menghubungkan outlet tegangan tinggi koil ke celah percikan bunga api yang berubah-ubah, ‘ukuran’ maksimum percikan bunga api (atau enerji yang tersedia) yang dapat diproduksi, dapat diukur. Hal tersebut harus dibandingkan dengan coil yang baru, lebih kurang 13 mm.









    Catatan: Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur kerja koil.
    Catatan penting: Alat uji coil pengapian berdaya tinggi.
    Alat uji output coil pengapian tidak boleh digunakan untuk menguji coil pengapian yang berenerji tinggi yang dirancang untuk system pengapian elektronik


    2. Kondensor Pengapian


    Ada tiga pengujian yang harus dilakukan terhadap kondensor.


    • Kebocoran, untuk memastikan arus tidak bocor melalui bahan penyekat dielektrik.

    • Kapasitas, untuk memeriksa keadaan plat untuk memastikan kondensor mempunyai kapasitas untuk menyimpan semua enerji listrik.

    • Resistansi seri, untuk memeriksa sambungan kabel kondensor ke plat.






      Alat ukur condensor otomotif harus digunakan sesuai dengan kondisi aslinya, menyediakan tegangan dan siklus pengisian yang mensimulasikan kerjanya pada engine








        3. Kontak Point


        Kontak point pengapian memerlukan perawatan yang tinggi dan penting dalam system pengapian, jika ada keragu-raguan pada kontak point segeralah ganti


        1. Periksa permukaan kontak point, warna abu-abu menujukkan pemakaian normal, permukaan yang berwarna biru tua terbakar menunjukka salah satu dari:


        • celah terlalu kecil.

        • Kondensor rusak

        • Lilitan koil rusak.



        2. Pemeriksaan lainnya


        • Kekuatan pegas.

        • Kabel listrik dan sambungan.

        • Celah kontak point.

        • Keausan poros cam distriburtor.



        4. Ballast Resistor


        Ballast resistor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter, dua kali yaitu saat engine masih dingin dan pada temperatur kerja.







        Gunakan spesifikasi pabrik saat menguji keterpakaian ballast resistor.





        5. Kabel Tegangan Tinggi dan Tutup Distributor


        Resistansi kabel tegangan tinggi dan tutup distributor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter.








        Rentang nilai resistansi kabel tegangan tinggi biasanya berkisar antara 10 – 25 K ohm, tergantung panjangnya.


        Kabel yang diidentifikasi mempunyai resitansi tinggi harus dilepas dari distributor. Terminalnya harus dilepas, periksa dan uji kembali jika terdapat permasalahan karat. Tutup distributor harus diperiksa secara visual untuk mengetahui keretakan, terminal yang berkarat atau rusak.







        6. Kapasitor


        Penguji kapasitor harus digunakan untuk menentukan:


        • Kapasitas kapasitor

        • Resistansi atau kebocoran insulator

        • Resistansi seri

        • Hubungan singkat atau ke massa

        • Hubungan singkat internal rangkaian.


        Untuk mengecek kapasitor dengan pengujian:

        • Hubungkan salah satu kabel alat uji ke kabel kapasitor

        • Hubungkan ujung lainnya ke badan kapasitor.

        • Hidupkan alat uji.

        • Putar tombol penguji ke arah ‘ capacity’

        • Perhatikan pembacaan alat ukur dan bandingkan dengan spesififkasi pabrik.

        • Putar tombol penguji ke arah ‘leakage’.

        • Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di luar garis merah.

        • Putar tombol penguji ke arah ‘series resistance’.

        • Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di dalam garis merah.



        Catatan:


        Hubungan singkat ke massa atau hubungan singkat di dalam rangkaian akan terdeteksi dengan salah satu pengujian  ini.   Kapasitor dapat diuji dengan menggunakan alat uji osiloskop.







          7. Pembangkit PulsaUntuk mengetest pembangkit pulsa pada distributor pengapian elektronik


          • Gunakan ohmmeter dan aturlah pada rentang terrendah.

          • Masukkan setiap kabel ke kabel tegangan tinggi dari pembangkit pulsa.

          • Periksa pembacaan meter dan bandingkan dengan spesifikasi pabrik




          Gambar Modul Pengendali Pengapian Elektronik Karena tidak ada cara yang umum dalam pemeriksaan kotak pemicu, disarankan mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh pabrik. Instrumen pengujian yang digunakan adalah:

          • Ohmmeter.

          • Voltmeter.

          • Pada beberapa kasus, baterai kering 1,5 V.


          Definisi Timing Light



          Timing light merupakan alat yang digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya  akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik.  Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.






          Pengertian Dwell Tester






































          Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut pemutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primer akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.

          Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.




          Pengoperasian Dwell Tester 

          Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.


          Catatan:


          • Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.

          • Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat distel.


          Definisi Avometer






          Avometer digunakan untuk memeriksa Tegangan,penurunan tegangan. Mengidentifikasi status sinyal, misalnya AC, DC atau pulsa DC. Status sinyal input dan output dari unit pengendali system pengapian. Arus yang mengalir pada rangkaian dan komponen.




          Meter yang disatukan pada analyzer mungkin memerlukan pemilihan fungsi yang berbeda untuk memungkinkannya bekerja secara terpisah dari fungsi analyzer. Ampermeter analyzer umumnya menggunakan jenis pick-up induktif yang dihubungkan ke rangkaian kendaraan

          Multimeter Digital

          Multimeter digital disarankan oleh pabrik pembuat komponen dan kendaraan untuk digunakan pada rangkaian dan peralatan elektronik. Volt, amper dan ohmmeter digunakan untuk menguji kondisi rangkaian, nilai dan keterpakaian komponen. Fungsi multimeter digital lainnya seperti pemeriksa dioda dan frekuensi meter dapat digunakan untuk mendiagnosa system pengapian dan keterpakaian komponen.
          Fungsi frekuensi mampu mengukur: 



          • Ketersediaan output generator sinyal.

          • Frekuensi output generator sinyal dibandingkan dengan variable lain yang sudah diketahui seperti putaran mesin.

          • Input dan output dari unit pengendali system pengapian elektronik.




          Fungsi penguji dioda dapat digunakan untuk memeriksa keterpakaian:



          • Dioda pelindung Kejutan Listrik pada system.

          • Dioda operasi system.

          • Keterpakaian transistor daya.

          • Kontinuitas rangkaian.



          Tuesday, July 19, 2011

          Pengetesan Motor Starter


          1. Pengetesan Pull In Coil

          • Hubungkan terminal (+) baterai ke terminal 50 motor starter
          • Hubungkan terminal (-) baterai ke terminal C saklar starter dan bodi atau masa dari motor starter
          • Pull In Coil baik jika pada pengetesan ini plunyer tertarik kebelakang dan tuas mendorong over raning clutch ke depan

          Penting !! Pada Pengetesan ini lepaskan hubungan terminal C ke field Coil

          2. Pengetesan Hold In Coil
          Seperti pada pengetesan pull in coil lepaskan kabel yang menghubungkan negatif baterai dengan terminal C.
          Pada pengetesan ini hold in coil baik jika posisi plunyer tetap tertahan

          3. Pengetesan Kumparan Medan
          1. Pengetesan Kontinuitas.
          Dengan menggunakan Ohm meter hubungkan kedua jarum ohm meter ke masing- masing ujung kumparan. Harus ada kontinuitas diantara kedua ujung kumparan.

          2. Pengetesan Hubungan dengan masa.
          Hubungkan satu jarum ohm meter ke ujung kumparan dan jarum yang lain ke massa / bodi. Antara bodi dan kumparan harus tidak ada kontinuitas.


          4. Pengetesan Kumparan Jangkar dan Armatur
          1. Pengetesan Hubungan Singkat.
          Hubungkan jarum ohm meter ke armatur dan ke bodi masa. Antara armatur dan bodi harus tidak ada hubungan.

          2. Pengetesan Kontinuitas.
          Hubungkan kedua jarum ohm meter ke armatur. Ubahlah posisi salah satu jarum melingkari permukaan komutator. Pada pengetesan ini harus menunjukkan kontinuitas.

          5. Pengetesan Sikat dan Pemegang Sikat
          1. Pengetesan Hubungan Singkat .
          Hubungkan jarum ohm meter ke sikat negatif dan pemegang sikat positif dan pada pengetesan ini harus tidak ada kontinuitas.

          2. Ukur sikat dengan vernier kaliper.
          Ganti sikat jika melebihi batas minimal dari buku pedoman.

          3. Ukur Ketegangan Pegas sikat.
          Ganti jika ketegangan dibawah buku pedoman, ganti dengan yang baru.
          6. Pengetesan Over Runing Clutch.
          Tahan roda gigi pinion dan putarlah kopling, kopling harus jalan bebas pada arah jarum jam dan terkunci pada putaran berlawanan arah jarum jam.
          Sumber : http://dianherdian.blogspot.com

          Cara Kerja Motor Starter



          1. Posisi Kunci Kontak ST
          Arus dari baterai ke pull in coil (PIC) dan hold in coil (HIC) dan kedua kumparan ini menghasilkan medan magnet searah dan akhirnya menarik plat kontak yang menghubungkan terminal B dengan terminal C serta tuas menggeser over runing clutch dan roda gigi pinion berhubungan dengan fly wheel. Arus yang ke C relatif kecil dan armatur berputar lambat.


          Bagan Aliran arus:

          2. Pada Saat Pinion Berkaitan Penuh
          Plat kontak sudah menghubungkan terminal B dan C, sehingga PIC tidak dialiri arus dan plat kontak hanya ditahan oleh HIC. Oleh karena itu arus yang besar dari terminal B akan langsung mengalir ke terminal C > kumparan medan > armatur > Kumparan jangkar > masa. Motor starter berputar cepat untuk menggerakkan fly wheel. Over runing clutch mencegah melindungi pinion gear jika putaranya lebih kecil dari putaran fly wheel.

          Bagan Aliran arus:

          3. Saat Kunci Kontak Posisi On
          Karena saklar starter diputar ke posisi Off PIC dan HIC tidak mendapat arus dari terminal 50 melainkan dari terminal C sehingga aliran arusnya akan menjadi:

          Karena arus PIC dan HIC berlawanan arah, gaya magnet yang dihasilkan juga berlawanan sehingga kedua-duanya saling menghapuskan, ini mengakibatkan kekuatan pegas pengembali dapat mnegembalikan plat kontak ke posisi semula, dengan demikian lengan penggerak menarik kopling jalan bebas dan gigi pinion terlepas dari perkaitannya dengan fly wheel.
          Bagan Aliran arus:

          Rangkaian motor Starter Mobil


          Komponen Sistem Starter
          Motor Starter tidak dapat bekerja jika tidak ada sumber tenaga yang menggerakkannya. Sistem Starter adalah serangkaian komponen yang terkait satu sama lain untuk menghidupkan starter. Komponen – komponen sistem starter meliputi :
          • Kunci kontak (ignition switch)
          • Fuse ( fusibel link )
          • Kabel penghubung
          • Baterai
          • Motor Starter


          Kunci Kontak :
          • Off : terputus dari sumber tegangan (baterai)
          • ACC : Terhubung dengan arus baterai , tetapi hanya untuk kebutuhan acecoris
          • ON / IG : Terhubung ke sistem pengapian (Ignition )
          • START : untuk Start

          Sekering (Fuse) :


          Baterai :


          Kabel :


          Rangkaian Sistem Starter

          Cara Menghidupkan Motor Starter
          Putar Kunci kontak ke posisi ST sampai motor starter berputar menggerakkan roda gigi fly wheel dan hasilnya Engine akan Running.


          Prinsip Kerja Motor Starter


          1. Medan Elektromagnetik
          Dalam ilmu Fisika, medan elektromagnetik adalah suatu medan yang dibentuk dengan menggerakkan muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak lainnya.Arus mengalir melalui lilitan kawat membentuk suatu medan magnet (M) di sekeliling kawat.

          2. Kaidah Tangan Kiri Fleming
          Fleming Left Hand Rule
          • Ibu jari menunjukkan arah gaya elektromagnetik
          • Jari telunjuk menunjukkan arah medan magnet
          • Jari tengah menunjukkan arah aliran arus listrik

          2. Prinsip Kerja Motor Stater.
          Sesuai dengan kaidah tangan kiri fleming. Jika di tengah tengah medan magnet dialirkan arus listrik maka akan timbul gaya elektromagnet. Pada gambar disamping , medan magnet dari kutup utara (N) menuju kutup selatan (S). Di tengah tengah medan magnet diletakkan konduktor yang dialiri arus, sehingga akan timbul gaya elektromagnetik yang menyebabkan konduktor bisa berputar.

          Komponen Sistem Motor starter Mobil

          Definisi Motor Starter
          Motor starter berfungsi untuk memutarkan fly wheel (Roda Gila) pada saat pertama kali melakukan start sehingga mesin dapat hidup setelah itu terjadi siklus yang akan menghasilkan tenaga.


           Gambar Motor Starter

          Bagian-Bagian Motor Starter
          Motor Starter terdiri atas beberapa bagian yang memungkinkan bekerja untuk mengubah energi listrik DC dari baterai menjadi tenaga gerak/putaran untuk memutarkan fly wheel. Sehingga mesin hidup.

          Bagian-bagian Motor Starter:
          • Saklar Starter (Selenoid )
          • Kumparan Medan (Field Coil )
          • Kumparan Jangkar
          • Sikat Arang ( Brush )
          • Armatur dan komutator
          • Over running clutch dan roda gigi pinion

          1. Saklar magnet ( Magnetic Switch )
          Saklar Magnet bekerja sebagai saklar utama untuk mengatur arus masuk ke kumparan medan (Field Coil) dan mengontrol gigi pinion dengan mendorong dan menariknya.

          Terminal – terminal yang ada pada saklar starter :
          • Terminal B : Mendapatkan arus langsung dari positif baterai (30)
          • Terminal C : Menghubungkan/mengalirkan arus dari terminal B ke kumparan medan (field coil)
          • Terminal ST (50) : Mendapatkan arus dari terminal ST (50) kunci kontak dan meneruskanya ke pull in coil  dan hold in coil  melalui plat kontak

          2. Kumparan Medan ( Field Coil ) & Yoke
          Arus dari baterai dialirkan ke kumparan medan yang terbungkus oleh pole core sehingga  menghasilkan medan magnet. Yang dibutuhkan motor untuk beroperasi. Field coil dihubungkan dengan Armature coil secara seri melewati sikat arang (brush).

          3. Kumparan Jangkar (Armature).
          Armature (kumparan jangkar) membangkitkan gerak daya putar akibat dari perbedaan arah gaya gerak listrik yang ditimbulkan oleh kumparan medan. Ball bearing menopang putaran kecepatan tinggi dari angkur. Armatur meneruskan arus listrik dari kumparan medan ke angkur melalui sikat arang (brush).

          4. Sikat dan Pemegang Sikat .
          Empat sikat (brush) menyalurkan arus ke armature coil melalui commutator. Dua diantaranya ditopang oleh insulated holder dan dihubungkan ke commutator (disebut dengan brush positif (+)) , dan kedua brush lainnya ditopang oleh grounded holder dan dihubungkan ke commutator (disebut dengan brush negatif (-)) Sikat itu dibuat dari karbon tembaga, yang mempunyai daya konduksi tinggi dan tidak gampang aus. Pegas sikat menekan pada permukaan putaran armature dan menghentikan putaran armature tepat saat starter berhenti dengan menekan sikat.

          5. Over Running Clutch dan Roda Gigi Pinion.
          Over Runing Clutch berfungsi untuk : Meneruskan putaran yang dihasilkan motor untuk menggerakkan fly wheel melalui roda gigi pinion.dan Menarik gigi pinion jika putaran gigi pinion lebih rendah daripada putaranfly wheel.


          Roda Gigi pinion berfungsi meneruskan daya putar starter ke mesin dengan memutarkan ring gear. Helical spline mengubah daya berputar dari motor ke tuas pinion dan mendukung pertautan/pelepasan gigi pinion dari ring gear.

          Saturday, June 25, 2011

          Tips Perawatan AKI Basah pada Mobil


          Aki merupakan sumber Energi atau sumber listrik pada kendaraan bermesin,baik kendaraan roda 2 maupun roda 4. Aki terdiri dari 2 tipe,tipe basah dan tipe kering. Pada umumnya aki yang digunakan pada mobil adalah tipe aki basah..
          Setiap aki memiliki 2 indikator yakni level upper (tertinggi) dan level lower (terendah) yang tertulis pada salah satu sisi aki. pemilik aki dianjurkan melakukan pengecekan air Aki setiap 1 bulan sekali dengan melihat indikator level tersebut.berikut tips Perawatan Aki Basah :
           Cara melepas Aki Rusak :
          1. Lihat dan perhatikan kabel-kabel yang digunakan, dan juga perhatikan kutub-kutub aki. Yang mana yang harus ke positif (+) dan yang mana yang harus ke negatif (-).
          2. Lepaskan klem aki negatif (-) terlebih dahulu . Kemudian dilanjutkan dengan melepas klem aki positif (+)  Langkah ini dilakukan agar ketika membuka klem aki  kendaraan tidak terjadi korsleting.
          3. Bersihkan klem aki, kabel, dan terminal kabel. Amplas, siram air panas dan sikat jika perlu.
          4. Pindahkan aki rusak ke tempat yang aman.

          Cara memasang Aki Baru :

          1. Bersihkan Rak tempat aki, letakan aki baru pada posisi yang baik dan tidak miring.
          2. Pasang klem aki positif (+) terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan pemasangan klem aki negatif (-).
          3. Lapisi klem aki dengan Grease agar sedikit memperlambat laju korosi..
          Cek dan Recek :
          1. Sebelum menstart mobil anda, lakukan pengecekan sekali lagi, apakah pemasangan aki sudah benar, klem aki positif (+) ke terminal positif (+) pada mobil dan klem aki negatif (-) ke terminal negatif (-) mobil.
          2. Cek apakah klem aki sudah terpasang dengan baik dan benar.
          3. Nyalakan kontak ke posisi on : cek apakah lampu indikator aki di speedometer anda menyala. Jika tidak periksa sistem charging. Jika nyala maka lanjutkan ke langkah berikutnya.
          4. Hidupkan mesin, Saat mesin menyala maka seharusnya lampu indikator bergambar aki di speedometer akan segera padam. Jika tidak cek sistem charging.
          Penambahan air aki :
          1. Jika kurang jauh di bawah level minimum, sebaiknya penambahan air aki dilakukan pada saat kondisi aki Dingin agar tidak merusak sel aki (plat aki). Jika di lakukan disaat panas di khawatirkan plat aki akan menyusut secara tiba-tiba dan berakhir dengan keretakan.
          2. Jika tidak berada dibawah level minimum, penambahan air aki dapat dilakukan kapan saja, tetapi sebaiknya diisi pada Pagi hari sebelum mesin dinyalakan.
          Tips Perawatan Aki :
          • Mengecek level air aki (untuk aki basah) setiap 2 minggu sekali. Jika kurang tambahkan dengan Aquades atau air bebas mineral. Jangan gunakan Air aki zuur atau H2 SO4.
          • Membersihkan klem aki dengan cara menyiramnya dengan air panas dan di sikat dengan sikat kawat atau sikat gigi. Jika perlu buka terminal aki dari aki dan bersihkan dengan sikat atau amplas.
          • Setiap 6 bulan sekali lakukan pengechargan dengan menggunakan charger di luar mobil. Lakukan fast charging selama 1-2 jam. Hal ini untuk menormalisasi sel-sel aki.
          • Ganti aki anda bila perlu.
          Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...